CREDITS:

THEME BY: YaniLavigne
ICONS: KistyKreme
GET THIS THEME:YaniLavigne-Themes


“Saat kamu lelah dengan masa lalu dan memilih untuk pergi, hati ini sakit karna aku merasa kehadiran ku ini tak berarti apa-apa buat kamu. Juga tak ada alasan untuk menahan kamu pergi. Dan saat kamu benar-benar pergi, aku putuskan untuk membuang semua harapan yang selama ini aku ingin agar aku bisa bahagia disampingmu dan menerima semua kekurangan juga masa lalu mu itu. Harapan itu sudah retak, karna tak mungkin bagi aku untuk menunggu kamu tanpa kepastian.”

@annisazsasya


Posted on October/9/2014


“Semoga pada akhirnya aku tidak akan menyesal, karna seseorang yang begitu tulus mencintaiku, aku tinggalkan! Entah apa yang aku cari.. Maafkanlah..”

@annisazsasya


Posted on October/6/2014


“Tahukah kau, dulu aku pernah berdua tapi akhirnya kecewa dan luka.”

@annisazsasya


Posted on October/2/2014


Engku Zainuddin ;

"Kau yang sanggup menjadikan saya seorang yang gagah berani, kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku, kau pun sanggup membunuhku. Tanganmu akan ku gandeng dari hayatku sampai matiku.

Semuda ini usiaku sudah begitu berat luka yang harus ku tanggung. Kau regas segenap pucuk pengharapanku, kau patahkan, lalu kau datang minta maaf, tidak.. Hayati!

Demikianlah perempuan ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.

Bukankah kau yang telah berjanji, ketika saya diusir oleh ninik mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina, tidak tulen Minangkabau.

Ketika itu kau antar saya disimpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapapun lamanya, tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah, kaya raya, berbangsa, beradab, berlembaga, berketurunan, kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa pernikahan itu bukan terpaksa oleh paksaan orang lain, tetapi pilihan hatimu sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta, Hayati…

Dua bulan lamanya saya tergeletak ditempat tidur, kau jenguk saya dalam sakitku menunjukan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah menjadi kepunyaan orang lain, siapakah diantara kita yang kejam, Hayati…

Kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang didalam emas, bersayap uang kertas, siapakah diantara kita yang kejam, Hayati…

Siapa yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi, menambah pengetahuan, tetapi akhirnya terbuang jauh ke tanah Jawa ini. Hilang kampung dan halamannya, sehingga dia menjadi anak yang tertawa dimuka, tetapi menangis dibelakang layar, tidak.. Hayati.. saya tidak kejam! Saya hanya menuruti katamu, bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal, permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku, tetapi janda dari orang lain. Maka itu secara seorang sahabat bahkan secara seorang saudara saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu, sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku.

Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini kau ku bawa tinggal dirumahku untuk menunggu suami mu, tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu, sebagai seorang sahabat pula, kau akan ku lepas pulang ke kampungmu ke tanah Minagkabau yang kaya raya, beradab, berlembaga, tak lapuk dihujan tak lekang dipanas.

Ongkos pulangmu akan saya beri, demikian pula uang yang kau perlukan. Dan kalau saya masih hidup, sebelum kau mendapat suami lagi Insyaallah hidup kamu selama di kampung akan saya bantu.

Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa.

Kau mesti pulang kembali ke kampungmu, biarlah saya dalam keadaan begini, jangan mau ditumpang hidup saya.”





“Mencintai diri sendiri itu salah satu cara untuk menghibur orang lain.”

(via zarry-hendrik)




Seharusnya Kamu Tidak Percaya?

zarry-hendrik:

Selama ini,
aku pura-pura
pada tawa-tawa yang renyah didengar,
pada kelincahanku yang menghibur,
pada mereka yang kubuat salut oleh kebodohan.

Seharusnya kamu ragu.

Aku telah menjadi badut bagi diri sendiri.
Aku memaksakan diri, seakan tanpamu
aku tak apa.

Sebenar-benarnya, aku tersiksa.
Aku…




Pergantungan jiwaku, Zainuddin!

Kemana lagi langit tempatku bernaung, setelah engkau hilang pula daripadaku, Zainuddin. Apakah artinya hidup ini bgku kalau engkau pun terus memupus namaku dari hatimu!

Sungguh besar sekali harapanku hendak hidup dekatmu. Akan berkhidmat kapadamu dengan segenap daya dan upaya, supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa makbul. Supaya dapat segala kesalahan yang besar-besar yang telah kuperbuat terhadap kepada dirimu saya tebusi. Tetapi cita-citaku itu tinggal selamanya menjadi cita-cita, sebab engkau sendiri yg menutupkan pintu di hadapanku. Saya kau larang masuk, sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam kesakitan yang telah sekian lama bersarang didalam hatimu yang selalu menghambat-hambat perasaan cinta yg suci. Lantaran membalas dendam itu, engkau ambil suatu keputusan yang maha kejam, engkau renggutkan tali pengharapanku, padahal pada tali itu pula pengharapanmu sendiri tergantung. Sebab itu percayalahlah, Zainuddin. Bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang, bukan ia menimpa kan kecelaka kepadaku saja, tetapi kepada kita berdua. Karena saya percaya bahwa engkau masih tetap cinta kepadaku.

Zainuddin! Kalau saya tak ada, hidupmu tidak juga beruntung, percayalah!

Di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya, dan kekayaan itu belum pernah kuberikan kepada orang lain, walaupun kepada Aziz, ialah kekayaan cinta. Saya tahu bahwa engkau kekurangan itu. Saya merasa bahwa saya sanggup memberimu bahagia pada tiap-tiap saat hidupmu, yang tiada seorang perempuan agaknya yang sanggup menandingi saya di dalam alam ini dalam kesetiaan memegangnya, sebab sudah lebih dahulu digiling oleh sengsara dan kedukaan ,dipupuk dengan air mata dan penderitaan. Dan kalau sedianya engkau kabulkan, kalau sedianya engkau terima kedatanganku, saya pun tidak meminta upah dan balasan dari engkau. Upah yang saya harapkan hanya dari Dia, Allah Yang Maha Esa, supaya engkau diberiNya bahagia, dihentikannya aliran air matamu yang telah mengalir sekian lama. Upahku yang kedua, yang saya harapkan daripadaNya, hanyalah supaya saya dapat hidup dekatmu, laksana hidupnya sebatang rumput sarut di bawah lindungan pohon beringin dengan aman dan sentosa, dipuput oleh angin pagi yg lembut gemulai.

Zainuddin..! Mengapa engkau tak suka memaafkan kesalahanku? Demi Allah! Saya sudah insaf, bahwa tidak ada seorang pun yg pernah saya cintai didalam alam ini, melainkan engkau seorang. Tidak pernah beroleh tentram diriku setelah aku coba hidup dengan orang lain. Orang yang telah mengecewakan hatimu itu, yang sekarang telah insaf dan telah menghukum dirinya sendiri, meskipun dia sanggup memperoleh tubuhku, dia selamanya belum sanggup memperoleh hatiku. Karena hatiku telah untukmu sejak saya kenal akan dikau.

Kalau sekiranya engkau maafkan kesalahanku, engkau lupakan kebebalan dan kecongkakan ninik mamakku, kalau… kalau sekiranya maafmu memberi izin mimpimu sendiri terkabul; kalau sedianya semuanya itu kejadian, engkau akan beroleh seorang perempuan yang masih suci batinnya, suci jiwanya, belum pernah disentuh orang lain, hatinya belum pernah dirampas orang, yang tidak bedanya dengan ’Permatamu yang Hilang’ dan dengan gadis Batipuh yang engkau cintai dua dan tiga tahun yang lalu, yang gambarnya tergantung di kamar mu!

Piala kecintaan terletak dihadapan kita, penuh dengan madu hayat nikmat ilahi. Air madu itu telah tersedia di dalamnya untuk kita minum berdua, biar isinya menjadi kering, dan setelah kering kita telah boleh pulang ke alam baqa dengan wajah yang penuh senyuman, kita mati dengan bahagia sebagaimana hidup telah bahagia. Tiba-tiba dengan tidak merasa kasihan, engkau sepakkan piala itu dengan kakimu, sehingga terjatuh, isinya tertumpah habis, pialanya pecah. Lantaran itu, baik saya atau engkau sendiri, meskipun akan masih tetap hidup, akan hidup bagai bayang-bayang layaknya. Dan kalau kita mati, kita akan menutup mata dengan penuh was-was dan penyesalan.

Apa sebab engkau begitu kejam, tak mau memberi maaf kesalahanku? Padahal telah lebih dahulu bertimpa-timpa azab sengsara ke atas diriku lantaran mungkir ku! Kelihatan oleh matamu sendiri bagaimana saya dan suamiku menjadi pengemis di waktu kayamu, menumpang di rumahmu untuk mmperlihatkan bagaimana sengsaraku lantaran tak jadi bersuami dengan engkau. Hilang…hilang semuanya. Hilang suami yang kusangka dapat memberiku bahagia. Hilang kesenagan dan mimpi yang ku harap-harapkan. Setelah semuanya kuderita, harus kudengar pula dari mulutmu sendiri kata penyesalan, membongkar kesalahan yang lama, yang memang sudah nyata kesalahan, yang oleh Tuhan sendiripun kalau kita bertobat kepadaNya, walaupun bagaimana besar dosa, akan diampuniNya.

Adakah engkau tahu, hai Zainuddin, siapakah perempuan yang duduk di kamar tulismu kemarin itu? Yang engkau beri kata pedih, kata penyesalan, kata engkau bongkar kesalahannya dan kedosaannya, yang engkau remukkan jiwanya dengan tiada peduli?

Perempuan itu tidak lain dari satu bayang-bayang yang telah hilang segenap semangatnya, yang telah habis seluruh kekuatannya, tidak berdaya upaya lagi, habis kekuatan pansainderanya dan perasaannya; matanya melihat, tetapi tak bercahaya, telinga mendengar, tetapi tiada ia  mafhum lagi apa yang didengarnya.

Yang tinggal hanya tubuhnya, batinnya sudah tak berkekuatan lagi… Inilah dia  perempuan yg engkau sakiti itu. Itulah perempuan yang engkau timbang sengsaranya dan ratapnya. Engkau ulurkan kepadanya tanganmu yang kuat dan kuasa, engkau tikam dia dengan keris pembalasan, mengenai sudut jantungnya, terpancar darah dan akan tetap mengalir sampai sekering-keringnya, mengalir bersamaan dengan jiwanya..

Inilah perempuan yang engkau sakiti itu! 

Tetapi sungguhpun demikian pembalasan yang engkau timpakan ke atas pundakku, kesalahanmu telah ku ampuni, telah kuhabisi, telah kumaafkan. Sebabnya ialah lantaran saya cinta akan engkau. Dan Karena saya tahu bahawasanya yang demikian engkau lakukan adalah lantaran cinta juga. Cuma satu pengharapan yang penghabisan, heningkan hatimu kembali, sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah, ampuni saya, maafkan saya, letakkan saya kembali dalam hatimu menurut letak yang bermula, cintai saya kembali sebagaimana cintaku kepadamu dan jangan saya dilupakan…     

Engkau suruh saya pulang ke kampungku dan engkau berjanji akan membantuku sekuat tenagamu sampai saya bersuami pula.

Zainuddin! Apakah artinya harta dan perbantuan itu bagiku, kalau bukan dirimu yang ada dekatku?

Saya turutkan permintaan itu, saya akan  pulang. Tetapi, percayalah Zainuddin bahwa saya pulang ke kampungku, hanya dua yang ku nantikan: pertama kedatangan mu kembali, menurut janjiku yang bermula, yaitu akan menunggumu, biar berbilang tahun, biar berganti musim. Dan yg kedua ialah menunggu maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya bergantung di awang-awang itu.

Selamat tinggal, Zainudin! Selamat tinggal, wahai orang kucintai di dunia ini! Seketika saya meninggalkan rumah mu, hanya namamu yang tetap jadi sebutan ku. Dan agaknya kelak, engkaulah yang akan terpatri dalam doaku, bila saya menghadapTuhan di akhirat…

Mana tahu, umur di tangan Allah! Jika saya mati dahulu, dan masih sempat engkau ziarah ke tanah pusaraku ,bacakan doa di atasnya, tanamkan di sana daun puding panca warna dari bekas tanganmu sendiri, untuk jadi tanda bahwa di sanalah terkubur seorang perempuan muda, yang hidupnya penuh dengan penderitaan dan kedukaaan dan matinya remuk rindu dan dendam.

Mengapa suratku ini banyak membicakan mati? Entahlah, Zainuddin, saya sendiri pun heran, seakan-akan kematian itu telah dekat datangnya. Kalau ku mati dahulu daripadamu, jangan engkau berduka hati, melainkan sempurnakan permohonan doa kepada Tuhan, moga-moga jika banyak benar halangan pertemuan kita di dunia, terlapanglah pertemuan kita di akhirat, pertemuan yang tidak akan diakhiri lagi oleh maut dan tidak dipisahkan oleh rasam basi manusia.

Selamat tinggal, Zainuddin, dan biarlah penutup surat ini ku ambil perkataan yang paling enak ku ucapkan di mulut ku dan agaknya entah dengan  itu ku tutup hayatku di samping menyebut kalimat syahadat, yaitu : Aku cinta akan engkau, dan kalau ku mati, adalah kematianku di dalam mengenangkan engkau…”

.Sambutlah salam dari:

            Hayati 






:)

:)


Posted on May/21/2014


“Aku takut gelap, tapi aku akan bertahan dalam gelap karna cahaya itu kamu”

Annisa Zsasya


1 note
Posted on April/30/2014


“Dulu kamu begitu indah bercahaya terang seperti bintang. Tapi sekarang aku melihat cahaya itu redup dan hampir padam, apa itu karna aku mulai tidak menyukai kamu lagi? Mungkin!”

Annisa Zsasya


Posted on April/30/2014



Next
I Love you Theme By: ©YaniLavigne Best Viewed: Mozilla Firefox 1027x750